ALIEN PERANG




Malam itu, bulan seolah menatap dingin saat sebuah anomali membelah langit. Tanpa suara, sebuah benda logam yang berpendar redup meluncur dari arah kawah perak di atas sana, membelah atmosfer bumi menuju sebuah desa sunyi. Sosok itu turun—seorang pengelana dari bintang yang berwujud nyaris menyerupai manusia, namun dengan gerak-gerik yang terlalu kaku untuk disebut organik.

Ia tidak datang untuk menjajah, setidaknya belum. Dengan bilah cahaya tipis, ia memanen sebutir umbi dan beberapa kelopak bunga liar dengan presisi seorang ahli bedah. Baginya, flora bumi adalah data yang harus dipecahkan.

Namun, kesunyian itu pecah ketika Pak Karta, seorang petani tua, terbangun oleh derit pagar kayu di pekarangannya. Awalnya, ia mengira itu hanya tetangganya yang berniat usil. "Siapa di sana?" teriaknya, sembari menyipitkan mata menembus remang malam.

Langkah Pak Karta terhenti. Di balik bayangan pohon nangka, sosok itu berdiri. Kulitnya memantulkan cahaya bulan dengan cara yang tidak wajar, dan matanya... matanya tidak berkedip. Bukan manusia. Bukan siapa pun yang ia kenal.

"TOLOOONG! ADA MAHLUK ANEH!" teriakan Pak Karta merobek kesunyian malam.

Si Alien tersentak. Dalam kepanikan yang sunyi, ia meraup sampel tanamannya. Dalam sekejap, tubuhnya berpendar, warnanya memudar mengikuti corak batang pohon dan gelapnya malam—seperti bunglon yang sempurna. Ia berlari secepat kilat menuju ladang jagung, tempat di mana pesawatnya terparkir dalam mode kamuflase.

Tak lama, warga datang bergerombol. Obor-obor mereka menyala, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di tanah. Mereka menyisir setiap jengkal semak, namun hanya menemukan jejak kaki aneh yang samar dan bau ozon yang menyengat di udara. Di atas mereka, tanpa satu pun mata yang menyadari, sebuah riak di udara bergerak menjauh. Sang alien telah kembali ke pelukan bintang-bintang, meninggalkan para warga yang sibuk menggeledah kegelapan.




Posting Komentar

0 Komentar